Saturday, December 26, 2009

jangan pernah rasa MEMILIKI

"rasa memiliki membawa kelalaian"
-peribahasa Jawa-



Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya.

Tentu saja bukan sebagai kekasih. 
Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. 
Pilihan menurut akal sehat. 
Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, Dia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya.

Dia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah (meminang). Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’,
dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya.

Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”,
fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu.
Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.

Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman.

Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman,
”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

***

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya.

Ini tak mudah.
Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman.
Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.


Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian.

Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”.
Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.

Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya..

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/ Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki/…
by Salim A. Fillah


6 comments:

seorang musafir said...

salam~
salman al-farisi,terengat karin;p
n post ni byk bahse indo,kne letak kamus indo sebelah pasni..hehe.tp baguih2,blajo2(^-^)

fitrah manusia ingin mencintai dan ingin dicintai.
tp kite tgk blk mcm mane salman boleh mengenepikan perasaan itu..bagi salman,matlamat ultimate bknlah mempersiapkan diri utk berkahwin ttpi meningkatkan diri utk menjadi hambaNya yg terbaik..

perkahwinan ini kan sepatutnye dpandang as salah satu medan utk menambahkan keimanan,saling memimpin dlm menggapai cintaNya,membina generasi baru yg dibentuk sedari perkenalan si perempuan dan llki lg,mendidik diri dgn tanggungjawab,dll-or dgn kata lain,medan mempersiapkan diri ke arah menjadi hambaNya..

tgn ini,hati ini,perasaan ini,pemiliknya bukanlah kita..apatah lg,satu jasad yg lain pula.semua ini dan semua itu adlh milikNya..jd,btl3,jgn pernah rasa memiliki(^-^)
gilaplah cermin itu sekilat mana pun,tataplah cermin itu berapa lama pun,tetapi,jika Allah menghendaki ia pecah,maka,pecahlah.
"kunfayakun"

berat mata memandang,lg berat bahu memikul bukan?tpi segalanya,suka atau duka,berlaku atas kehendakNya..Allah PASTI tahu yg terbaik utk kita.
(salman kahwin jugak akhirnye~.^)
susuri jalan ini dlm keredhaanNya,insyaAllah di akhir nt kita masih mampu tersenyum..kerana "segalanya indah keranaNya"

p/s:mcm bermadah sgt plak,jgn segansilu dtg blek kalo kurang paham.hehe;)

ibnsyaaban said...

salam ziarah...

sememangnya tiada apa yang kita miliki secara total...semuanya adalah pinjaman dari Allah yang Esa.

Persoalannya adalah bagaimana kita memanfaatkan pinjamanNya itu untuk kita merapatkan diri lagi denganNya, hidup dalam redhaNya.

Ahsani Taqwiim said...

waalaikumsalam.

jazakillah khair. nasehat yang sungguh baik buat sahabat dekat. terharu.
membaca sambil mengesat air mata di pipi.

tertampar dengan ayat,
" matlamat SALMAN bukan mempersiapkan diri untuk berkahwin, tapi MENINGKATKAN diri untuk menjadi HAMBANYA"

astaghfirullah..astaghfirullah. astaghfirullah.

MARI MELURUSKAN NIAT.
luruskan niat lillahi taala kerana KITA SAYANG DAN CINTA ALLAH lebih dari segala yang lain di DUNIA.

ighfirly ya ALLAH.
ighfirly ya rahman..
ighfirly ya raheem..

"oh ALLAH, aku mabukkan cintamu, kerana ENGKAU yang MEMILIKI AKU, MEMILIKI HATIKU..kerana ENGKAU YANG SELALU DEKAT DAN MENEMANI DIRIKI..."

(mengesat air mata lagi di sepertiga malam..ESOK JOM PUASA ASSYYURA)

Ahsani Taqwiim said...

to ibn syaaban:

jazakallah khair ya akh.
bolehkah saudara huraikan lebih lanjut ttg "phrase" ini?

"Persoalannya adalah bagaimana kita memanfaatkan pinjamanNya itu untuk kita merapatkan diri lagi denganNya, hidup dalam redhaNya"

andai saudara boleh menghuraikan lebih lanjut tentang PRAKTIS seharusnya bagaimana. sangat ingin tahu.
jazakallah khair.

ibnsyaaban said...

Baik.

Andaikan saja saya ini seorang isteri. Apakah yang saya harus lakukan untuk mendapatkan redha Allah melalui suami saya (pinjaman dariNya)?

Sudah tentu dengan memenuhi hak-hak dan tuntutan syara’ sebagai isteri. Tapi adakah itu jua cukup?

Kita tahu bahawa di dalam rumahtangga itu ada cinta dan rahmah antara suami dan isteri. Sewajarnya jua cinta dan rahmah itu dipandukan dengan redha Ilahi. Ada sesetengah isteri yang terlalu mencintai suaminya hinggakan dia melalaikan suaminya itu dari memenuhi tuntutan Allah (refer kisah Atiqah dan Abdullah Abu Bakar) dan begitu juga sebaliknya.

Dari segi praktis, kena selalu check diri agar tindakan kita sentiasa selari dengan tuntutan Allah.

Harap menjawab soalan.

Ahsani Taqwiim said...

to ibn syaaban:

jazakallah khair...betul.

jadi, itulah maksudnya, PERSEDIAAN untuk melangkah ke baitul muslim. bukan sekadar memahami hak dan tuntutan syara', tapi LEBIH BESAR DARI ITU..

iaitu...
HAKIKAT KEHAMBAAN PADA ALLAH.
yakni...meningkatkan nilai dan martabat diri di mata ALLAH..

Ramai orang, bila sudah hampir ke waktu walimah (perkahwinan), maka makin sibuklah dengan urusan perkahwinan seperti persiapan pelamin, baju penganyin, kenduri dll, sedangkan URUSAN dengan ALLAH perlu lebih2 disegerakan dan dikhususkan..

moga2 bila mengutamakan HAK ALLAH dan menunaikan HAK RABB, maka persiapan kepada walimah dan isteri itu akan jadi lebih mudah dan ringan.
tak berat.

wallahualam.