Monday, June 1, 2009

darah!!!!!! (BAHAGIAN 1)




Dalam sebuah Hadits yang diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa: dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian -yakni kaum Bani Israil- ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Lelaki ini telah berlumuran darah. Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah, kerana telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya terpelihara. Padahal, seandainya semua penduduk bumi dan penduduk langit bersatu-padu untuk membunuh seorang lelaki muslim, tentulah Allah akan mencampakkan mereka semuanya dengan keadaan muka di bawah ke dalam neraka. Maka lebih lagilah, dengan keadaan seseorang yang datang dengan pedang yang terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.Lelaki yang melakukan kejahatan ini sesungguhnya telah membunuh ramai org, membinasakan banyak jiwa yang telah diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya mereka. Namun, Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, dia menyedari kesalahannya terhadap Allah. DIa pun ber­pikir tentang hari pertemuannya dengan Allah nanti, serta teringat saat hari ketika dia datang kepada Allah untuk mempertanggungjawab­kan semua dosanya. Dia meyakini bahwa tiada yang mengampuni dosa, yang menghukumnya, yang menghisabnya, dan yang membenci seorang hamba kerana dosa, kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.Seterusnya, dia berfikir untuk kembali dan bertaubat kepadaNya agar ALLAH membebaskannya dari neraka.


"Sesungguhnya para raja SEKALIPUN,
APABILA hamba2 mereka telah tua, beruban dalam penghambaan itu..
maka mereka pasti akan memerdekakannya
dengan pembebasan yang baik
Dan Engkau, wahai Penciptaku, jauh lebih pemurah daripada itu
Sekarang sungguh, aku telah beruban dalam penghambaan diri
maka bebaskanlah diriku dari neraka..."




Maka keluarlah dia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih menitiskan darah segar dan jari-­jemarinya pekat dgn darah. Dia datang bagaikan seorang yang mabuk, terkejut, lagi ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang: “Apakah aku masih boleh diampuni?”

Orang-orang disitu berkata kepadanya: “Kami akan membawamu kepada seorang rahib yang tinggal di kuilnya, maka sebaiknya kamu pergi ke sana dan tanyakanlah kepadanya, adakah dirimu masih boleh diampuni.”

Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memberi fatwa dalam masalah ini, kecuali hanya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah. Dia pun pergi ke sana, ke tempat rahib itu,iaitu seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israil yang belum pernah merasakan manisnya ilmu dan tidak pernah membekalkan dirinya dengan pengetahuan, penelitian, dan penguasaan terhadap masalah-­masalah agama. Dia hanya melakukan ibadahnya menurut tata cara yang dibuat-buatnya sendiri tanpa ada dalil, baik dari syari’at mahupun agama.

AL-HADlD (57): 27
“Dan mereka mengada-adakan kerahiban, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-­adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak meme­liharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. “

Sesungguhnya agama itu bila tidak disertai dengan cahaya hidayah dan ilmu, maka..ianya adalah sama dengan kesesatan dan bid’ah yang saling bertindih antara satu dgn yang lainnya.

DIa pun segera bergegas, dengan langkah yang cepat, penuh penyesalan kerana dosa-dosa yang telah dilakukannya.. Lalu. Dia pun mengetuk pintu kuil si rahib tersebut.

Rahib tersebut mengharamkan kepada dirinya sendiri: daging, makanan yang baik, pakaian yang baik, dan kawin, padahal Allah tidak mengharamkan semuanya itu atas dirinya. Dia lakukan hal tersebut karena kejahilannya dgn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Si Rahib pun keluar menyambut lelaki pembunuh itu.

Lelaki pembunuh ini masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran darah segar, hingga membuatkan si rahib berasa jengkel dan terkejut bukan kepalang. Si rahib berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu.”

Cara ini, sesunngguhnya adalah jelas..ianya bukan tata cara yang biasa digunakan oleh para ulama dan para da’i yang menghendaki hidayah bagi manusia. Sebab, pintu Allah selalu terbuka; pemberiannya sentiasa datang dan pergi; pahala-Nya dianugerahkan; tangan kekuasaan­Nya sentiasa terbuka pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa pada siang harinya, dan sentiasa terbuka pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdo’a pada malam harinya, hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya (hari Kiamat).

Si pembunuh bertanya: “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah mem­bunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertaubat?”

Rahib yang jahil itu spontan menjawab: “Tiada taubat bagimu!”
Mahasuci Allah, apakah engkau menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah diturunkan oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah dibuat oleh Allah?

Padahal Allahlah yang menciptakan; Allahlah yang telah menetapkan; Allahlah yang memberikan ampunan; Allahlah yang menghisab; dan Allahlah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih, lalu Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemu­dian Allah mengampuninya jika Dia menghendaki. Maka apakah urusanmu, hai rahib, sehingga engkau MAHU MASUK CAMPUR dalam urusan antara para hamba dan Tuhannya?

Apakah engkau memang seorang yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya BOLEH ditangani oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syari’at-Nya.

Akhirnya, si penjahat ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya dunia ini terasa gelap; kehendak dan tekadnya melemah; dan keindahan yang terlihat di wajahnya menjadi buruk.Dia pun lantas mengangkat pedangnya, lalu membunuh rahib ini sebagai balasan yang setimpal untuknya. kini, Dia telah menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuhnya.

Seterusnya, lelaki pembunuh ini keluar menemui orang ramai. Dia menanya­kan kembali kepada mereka, bukan kerana alasan apa pun, melainkan HANYA KERANA jiwanya sangat mengingin untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhan serta menghadapkan diri kepada-Nya.

DIa bertanya kepada mereka: “Masih adakah jalan untuk ber­taubat bagiku?”

Mereka menjawab: “Kami akan menunjukkanmu kepada Fulan bin Fulan, seorang ulama, bukan seorang rahib, yang ahli tentang hukum Tuhan.”

Sehubungan dengan pengertian ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan­nya melalui ayat-ayat berikut, Iaitu firman-Nya:

AZ-ZUMAR 39: 9
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

AL-­MUJAADALAH 58: 11
”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. “

AL-ANKABUUT 29: 49
“Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. “

ALI ‘IMRAN 3: 18:
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). “

LALU, Si pembunuh itu pergi segera menemui orang alim itu.Saat itu, ORG ALIM itu berada di dlm suatu majlis, dimana dia sedang mengajarkan sesuatu kepada orang2 muda disana, dan mendidik mereka.

Orang alim itu pun tersenyum menyambut kedatangan si pembunuh tadi.
setelah melihat keadaan si pembunuh itu, dia terus memeluknya dgn pelukan yang hangat dan mengajak si pembunuh itu duduk di sebelahnya. lantas, orang alim itu pun bertanya: “Apakah keperluanmu datang kemari?”

si pembunuh menjawab: “Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, maka masih adakah jalan taubat bagiku?”

Orang alim itu kembali bertanya: “Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? Pintu Allah sentiasa terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan; bergembiralah dengan perkenan dari-Nya; dan bergembiralah dengan taubatmu yang ikhlas.”

si pembunuh kembali bersuara: “Aku mahu bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.”

Orang alim berkata: “Aku memohon kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu.”

Selanjutnya, orang alim itu berkata kepadanya:
“Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, kerana sebahagian kampung dan sebahagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk melakukan kedurhakaan dan kejahatan bagi para penghuninya. Barang siapa yang lemah imannya di tempat seperti ini, maka dia akan mudah membuat derhaka dan akan terasa ringanlah baginya semua dosa, serta membuatnya untuk kembali melakukan tindakan menen­tang Tuhannya, sehingga akhirnya dia terjerumus ke dalam kegelapan lembah dan jurang kesesatan. Akan tetapi, apabila suatu masya­rakat yang di dalamnya itu, telah ditegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka akan tertutuplah semua pintu kejahatan bagi para hamba.”

“Oleh karena itu, keluarlah kamu dari kampung yang jahat itu menuju ke kampung yang baik. Gantikanlah tempat tinggalmu yang lalu dengan kampung yang baik dan bergaullah kamu dengan para pemuda yang solih yang akan menolong dan membantumu untuk bertaubat.”


Si pembunuh itu pun pergi dengan langkah yang cepat dan hati yang gembira dengan berita dan pengharapan ini. Ketika dia telah berada di tengah jalan, dia telah jatuh sakit dan sekaratul maut datang menjemputnya.

QAAF 50: 19, ertinya:
“Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”


lelaki tadi mengucapkan kalimat laa ilaaha illallooh, lalu dia meninggal dunia. saat itu, Dia belum pernah shalat, belum pernah puasa, belum pernah bersedekah, belum pernah memberi zakat, dan belum pernah mengerjakan kebaikan sama sekali, tetapi dia kembali kepada Allah dengan bertaubat, menyesal, berharap, dan takut kepada-Nya.

Maka datanglah malaikat rahmat dan malaikat azab untuk mengambil dan menerima nyawanya dari malaikat maut yang mencabutnya. di sana, malaikat2 ini telah terlibat dalam satu perselisihan yang sengit kerana mahu merebutkan nyawanya.

Malaikat rahmat berkata: “Sesungguhnya dia datang untuk bertaubat dan menghadap kepada Allah menuju kepada kehidupan yang taat, kembali kepada Allah, dan dilahirkan kembali melalui taubatnya itu. Oleh kerana itu, dia adalah bahagian kami.”

Malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah melakukan suatu kebaikan pun. Dia tidak pernah sujud, Tidak pernah solat, tidak pernah zakat, dan tidak pernah bersedakah, maka dengan alasan apakah dia berhak mendapatkan rahmat? jadi, dia termasuk dalam bahagian kami.”

Lalu, Allah mengirimkan malaikat lain dari langit untuk meleraikan persengketaan mereka. malaikat yang baru diutus itu pun datang kepada mereka yang telah menjadi dua golongan yang bertengkar.

Malaikat yang baru berkata kepada mereka: ”bertenanglah,kalian. Sesungguhnya penyelesaiannya menurutku ialah hendaklah kalian bersama-sama mengukur jarak antara lelaki ini dan tanah yang dia tinggalkan, iaitu kampung yang jahat, dan jarak antara dia dan kampung yang ditujunya, iaitu kampung yang baik.”

Ketika mereka sedang sama-sama mengukur, Allah memerin­tahkan kepada kampung yang jahat untuk jauhi tubuh lelaki itu dan kepada kampung yang baik untuk mendekatinya.

Menurut riwayat lain disebutkan bahawa sesungguhnya lelaki pembunuh 100 orang ini telah menonjolkan dadanya ke arah kampung yang baik. Akhirnya, malaikat menjumpai mayat lelaki jahat ini lebih dekat kepada penduduk kampung yang baik dan mereka memutuskan bahwa lelaki ini adalah bahagian untuk malaikat rahmat. Malaikat rahmat pun mengambilnya untuk dimasukkan ke dalam surga.

(KISAH LELAKI INI DISEBUTKAN DALAM SHAHIH BUKHARI NO. 3395, SHAHIH MUSLIM NO. 6957, DAN AHMAD NO.10924.)

...................................................................................

No comments: